nemu artikel dari blog kakak tingkat http://rekgen.blogspot.com/ nih, isinya tentang rekayasa genetika yang dimanfaatin buat tikus pendeteksi bom, keren ya. jadi kalo ada bom di bawah tanah gitu lebih mudah dideteksi sama si tikus. info lengkapnya baca artikel ini ya.
TIKUS PENDETEKSI BOM DAN NARKOBA
Menjadi seorang tentara memang bukan suatu hal yang mudah, apalagi harus menelusuri jalanan yang penuh dengan ranjau. Mungkin dikarenakan hal tersebut, seorang peneliti Bioengineer dari Amerika Serikat menggunakan bantuan penciuman tikus untuk mendeteksi peledak. Agar sang tikus dapat membantu manusia dalam pendeteksian bahan peledak maka peneliti yang bernama Charlotte Dâ Hulst ini merekayasa genetika hewan tersebut. Dengan merekayasa genetika tikus itu, maka hewan laboratorium itu akhirnya memiliki kemampuan penciuman 500 kali lebih baik dibanding tikus normal. Dengan penciuman yang lebih baik tersebut, sang tikus diharapkan dapat mendeteksi letak peledak yang tertanam.
Tidak hanya melakukan rekayasa genetika saja, seperti yang dilansir Ubergizmo (16/10), Bioengineer dari Hunter College, City University of New York ini juga mengimplanmicrochip di bawah kulit hewan itu. Dengan bantuan penciuman dan microchip di bawah kulit, maka semua yang diketahui sang tikus dapat dikirimkan secara langsung ke komputer pengendali.
Peneliti memiliki alasan kenapa dia menggunakan tikus sebagai obyek penelitiannya. "Tikus adalah salah satu hewan yang memiliki ukuran kecil dan tak akan terdeteksi ketika mereka merayap dan berjalan di permukaan tanah. Tidak hanya itu, ukuran serta berat dari hewan itu juga tidak dapat membuat peledak aktif," jelas Dâ Hulst. Penelitian yang dinamakan MouSensor Project ini secara resmi dibiayai oleh National Institutes of Health. Walaupun proyek ini memiliki sisi positif, namun kemungkinan di kemudian hari MouSensor Project akan didemo oleh organisasi pecinta hewan.
Tidak hanya melakukan rekayasa genetika saja, seperti yang dilansir Ubergizmo (16/10), Bioengineer dari Hunter College, City University of New York ini juga mengimplanmicrochip di bawah kulit hewan itu. Dengan bantuan penciuman dan microchip di bawah kulit, maka semua yang diketahui sang tikus dapat dikirimkan secara langsung ke komputer pengendali.
Peneliti memiliki alasan kenapa dia menggunakan tikus sebagai obyek penelitiannya. "Tikus adalah salah satu hewan yang memiliki ukuran kecil dan tak akan terdeteksi ketika mereka merayap dan berjalan di permukaan tanah. Tidak hanya itu, ukuran serta berat dari hewan itu juga tidak dapat membuat peledak aktif," jelas Dâ Hulst. Penelitian yang dinamakan MouSensor Project ini secara resmi dibiayai oleh National Institutes of Health. Walaupun proyek ini memiliki sisi positif, namun kemungkinan di kemudian hari MouSensor Project akan didemo oleh organisasi pecinta hewan.
HeroRats adalah sebutan untuk tikus pahlawan, karena bisa mendeteksi ranjau dan juga penyakit seperti TBC. Selain itu juga bisa dimanfaatkan bermanfaat dalam penelitian karena tikus tersebut memiliki penciuman dan pendengaran yang sangat bagus tapi buruk dalam pengelihatan. tikus2 tersebut dilatih oleh APOPO (Organisasi yang menciptakan HeroRats) Jenis tikus yang digunakan sebagai pelacak ini adalah Tikus Gambian (genusCricetomys) dari Sahara Afrika, Tikus Pengerat yang berukuran besar ini memiliki ukuran tubuh sekitar 25-45 cm dengan panjang ekornya 36-46 cm dan mempunyai berat 1-1,5 Kg.

No comments:
Post a Comment