kalo yang ini sih, karya temen gue namanya erga diva. dia jago banget nulis, banyak inspirasinya. yuk, liat gimana karyanya
Di sudut kamar saat hujan
Entah apa yang hinggap sampai dapat ku tangkis lelap. Mulutku tak dapat lagi menyembunyikan sesuatu dibalik lengkung palsu yang menyimpan berjuta makna tersirat semu. Terjerat dibalik dimensi penuh drama, bersanding dengan pilu dan mengharu biru. Mungkin, yang tersisa hanya aku, terhimpit rasa yang telah habis adanya. Menjadi beku lebih dari es yang membatu ribuan tahun lamanya, memupuskan asa yang pernah ada, meracau kata ditiupi luka, hingga denyut tak lagi terasa ditempat yang semestinya, seolah menjadi saksi hingga aku kini mati rasa.
Hampir tengah malam lewat, seolah tiap detiknya menghitung waktu yang terbuang, menyindirku yang habis sia-sia tanpa alasan. Lebih dari itu, gerimis mendera menyambut hadirnya hujan yang deras mengguyur, petir bersautan menyambar-nyambar, bulan bintang hilang ditelan awan kelam dan aku disini sama sekali tak peduli. Hanya bisa menatap tiap tetesnya di balik kaca jendela, tersudut dipojok kamar, penuh udara namun terasa sesak tiada sekat.
Memunafikkan diri hingga segala yang berkecamuk ku telan sendiri. Beribu tanya menyelimuti, aku membisu dan hanya bisa berbahasa kalbu. Bukan seorang pujangga yang dengan mudah tafsirkan cinta. Bukan seorang puitis yang merangkai kata menjadi dramatis. Terlalu banyak rahasia yang tak bisa ku lisankan, ku tahan sampai terkubur dalam.
Maaf aku tak bisa menjadi penerobos nebula yang dapat bersemayam dalam benakmu.
Maaf aku tak bisa membuatmu menjadi makna ganda yang lebih berarti.
Maaf aku tak bisa hadir di mimpimu walaupun hati ini terserang rindu.
Maaf aku tak bisa merambatkan rasa melalui ruang dan celah yang ada.
Maaf aku tak bisa menjadi bagian yang sebenarnya dari lakon drama.
Maaf aku tak bisa memberi asa yang bersemi dan merekah berbunga-bunga.
Maaf aku tak bisa tersengal berlari mengejarmu yang jauh berada di hadapku.
Maaf aku tak bisa membuyarkan kenanganmu yang terlalu melekat tercekat hati.
Maaf aku tak bisa menjadi angka pertama yang membuat angka setelahnya tiada.
Pada akhirnya, aku hanya bisa ...
Melihat siluetmu yang tersisa, menelan janji yang kau ingkar, menenun gurat yang kau buat.
Memalsukan lekuk bibir seperti yang ada dalam drama.
Menyuruh bintang menjaga tiap kerlipnya untuk senyummu.
Menitipkan pesan tak tersampaikan pada embun pagi.
Memandang ke arah bersebrangan yang terpisah batas.
Mengikhlaskan rundungan ejekan & hinaan salah satu dari kalian yang tak tau alasan.
Menyudahi cerita, membuang memori yang terekam dan memfosilkan semua rasa.
Dan babak favorit dari semuanya ketika aku menyebutkan namamu demi penguasa bumi dan langit agar kau bahagia bersama seseorang yang kau agungkan dihatimu.
Untuk kau yang dipuja dalam setiap hembus nafasnya, berjanjilah padaku untuk menggenggam erat hatinya di lubukmu, menjaganya tanpa sayatan serta guratan, menghadirkan gelak menjadi bahak, menjadikan indah harinya seindah eloknya selubung parasmu. Karena jika aku yang berada pada posisimu, aku bahkan tak perlu bersumpah pada siapapun untuk menghadirkan itu semua menjadi suatu realita nyata.
Sumpah demi Tuhan aku bersyukur atas segala kosmologi alam, sumbu jam yang berputar dan rotasi bumi tanpa henti yang telah Kau tuliskan hingga akhirnya terbentuk sebuah kisah tanpa ujung antara aku, kau dan dia.
nb: Teman adalah sumber inspirasi terbesar, maka perbanyaklah teman! hahaha maaf ya ini bukan puisi bukan paragraf bukan cerpen pokoknya bukan apa-apa. Nahloh jadi bingung kan? -_- pokoknya ditunggu komentarnya ya hehehe :)
nb: Teman adalah sumber inspirasi terbesar, maka perbanyaklah teman! hahaha maaf ya ini bukan puisi bukan paragraf bukan cerpen pokoknya bukan apa-apa. Nahloh jadi bingung kan? -_- pokoknya ditunggu komentarnya ya hehehe :)
No comments:
Post a Comment